Penyuluhan Gizi Di Posyandu Sebagai upaya pemberian Edukasi Gizi (Gizi Seimbang kaya Protein Hewani) untuk Pencegahan Stunting

Image 3
Berita

25 Januari 2025, Puskesmas Panji.

Upaya perbaikan gizi masyarakat yang sudah dilakukan Puskesmas Panji merupakan upaya pokok untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Masalah gizi merupakan masalah yang penanganannya harus dilaksanakan secara terpadu dengan berbagai sektor, bukan hanya dengan pendekatan medis. Masalah gizi berkaitan erat dengan masalah ekonomi dan perilaku serta pengetahuan masyarakat. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan pentingnya kesehatan dan dampak kedepan jika kesehatan terabaikan. Keadaan gizi masyarakat yang optimal, dapat meningkatkan produktifitas dan angka harapan hidup masyarakat.

Gizi seimbang adalah asupan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam proses metabolisme. Salah satu upaya dalam menjamin kesehatan berbasis masyarakat adalah Pos Pelayanan Terpadu, permasalahan kesehatan di masyarakat tidak jauh terlepas dari permasalahan kurang gizi yang dialami anak-anak. Melalui Posyandu berbagai permasalahan dasar kesehatan masyarakat dinilai dapat diatasi. Maka diperlukan pelayanan yang tepat dan terencana dalam Posyandu.

Berdasarkan Perpres No 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi, Stunting merupakan masalah yang menghambat terwujudnya sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif sehingga Indonesia perlu melakukan upaya percepatan penurunan stunting. Sasaran strategi nasional percepatan penurunan stunting meliputi, ibu hamil, anak berusia 0-23 bln, ibu menyusui,anak berusia 24 -59 bulan,remaja putri dan calon pengantin. Sehubungan dengan hal di atas Puskesmas Panji memberikan penyuluhan gizi seimbang yang dibutuhkan anak untuk pemenuhan nutrisi dalam tubuh,memberikan pemahaman akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang, menjelaskan berbagai jenis makanan untuk pemenuhan gizi anak,dan memberikan pemahaman akan dampak buruk kurangnya gizi terhadap pertumbuhan anak.

Menurut World Health Organization (WHO) dalam Resolusi World Health Assembly (WHA) nomor 55.25 tahun 2002 tentang Global Strategy of Infant and Young Child Feeding melaporkan bahwa 60% kematian balita langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh kurang gizi dan 2/3 dari kematian tersebut terkait dengan praktik pemberian makan yang kurang tepat pada bayi dan anak. Pemberian makanan yang terlalu dini dan kurang tepat pada anak dapat menyebabkan kurang gizi pada anak.

Salah satu kegiatan Puskesmas panji yaitu penyuluhan gizi di Posyandu tentang pentingnya nutrisi pada 1000 HPK untuk pencegahan stunting adalah kegiatan terkait Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang tepat. Rekomendasi WHO terkait PMBA adalah : Inisiasi Menyusu Dini, ASI Eksklusif 6 bulan, Makanan Pendamping ASI diberikan di usia 6 bulan sambil melanjutkan pemberian ASI, Pemberian ASI tetap dilanjutkan sampai usia 2 tahun. Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan pada anak yang biasanya diakibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama dengan berbagai faktor, antara lain: kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Kondisi ini tentu mengakibatkan anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan, dan berisiko mengidap penyakit metabolik serta degeneratif pada kemudian hari.

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan tindakan yang dilakukan segera setelah bayi lahir. Caranya yaitu dengan meletakan bayi menempel di dada atau perut ibu, dibiarkan merayap mencari puting agar bayi menyusu sampai puas. Proses ini berlangsung minimal 1 (satu) jam pertama semenjak bayi lahir. Setelah melakukan proses IMD, bayi diberi ASI secara eksklusif tanpa tambahan apa pun selama 6 bulan. Bayi baru bisa diberi Makanan Pendamping Asi (MP ASI) setelah berusia 6 bulan.

Pada pemberian MP ASI ada strategi-strategi yang harus dilakukan untuk menunjang keberhasilan dalam memberikan makanan pada bayi dan anak sehingga kecukupan gizinya terpenuhi. Strategi tersebut antara lain : tepat waktu, adekuat, aman dan higienis, serta diberikan secara responsif. Selain itu dalam Pemberian MP-ASI juga harus memperhatikan beberapa hal antara lain : Jadwal, Lingkungan dan Prosedur. Jadwal pemberian makan pada bayi dan anak sebaiknya teratur, durasi makan tidak lebih dari 30 menit, tidak menawarkan makanan camilan pada saat jadwal makanan utama. Faktor lingkungan yang perlu diperhatikan dalam memberikan MP ASI yaitu buatlah lingkungan yang menyenangkan, siapkan serbet agar tidak berantakan, usahakan tidak ada gangguan yang dapat mengalihkan perhatian anak, dan jangan memberikan makanan sebagai hadiah.

Untuk prosedur pemberian MP ASI adalah dengan memberikan makanan dalam porsi yang kecil, berikan makanan utama dahulu baru minum, ketika anak sudah bisa memegang makanan sendiri atau memegang sendok sendiri dorong agar anak bisa makan sendiri, lalu bila anak menunjukkan tanda tidak mau makan, tawarkan kembali makanan secara lebih netral dan tidak memaksa. Bila setelah 10 – 15 menit anak tetap tidak mau makan, akhirilah proses makan. Setelah itu bersihkan mulut anak jika sudah selesai makan.

Sebagai tindak lanjut maka puskesmas sebagai lini terdepan dari struktur jajaran kementrian kesehatan menjadi penggerak utama di masyarakat dalam penanggulangan masalah gizi serta mengajak semua lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan penganggulangan masalah gizi. Untuk memenuhi kebutuhan informasi terkait situasi status gizi dan indikator kegiatan pembinaan gizi yang spesifik di wilayah Puskesmas secara cepat, akurat, tepat waktu dan berkelanjutan maka Puskesmas dipandang perlu melaksanakan pemantauan petumbuhan secara periodik dan berkesinambungan. Pelaksanaan pemantauan petumbuhan di posyandu bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan balita dan memberikan informasi serta pengetahuan pentingnya gizi seimbang.