Pemberian Taburia Sebagai Upaya Penurunan Angka Stunting di Wilayah Puskesmas Jangkar

Image 3
Berita

Stunting adalah kondisi ketika tinggi badan anak berada di bawah dua standar deviasi (SD) dari standar pertumbuhan anak. Ukuran tinggi badan anak stunting biasanya berada di bawah rata-rata usianya. Stunting dapat disebabkan beberapa hal, salah satunya seperti kurangnya gizi yang berlangsung lama, umumnya sejak bayi dalam kandungan hingga usia 2 tahun. 

Saat ini, stunting masih menjadi masalah gizi utama di Indonesia yang harus diatasi. Menurut data resmi dari SKI (Survei Kesehatan Indonesia) angka stunting di Indonesia mencapai 21,5%. Target prevalensi stunting pada tahun 2024 yaitu 14%. Oleh karenanya, pemerintah melakukan beberapa upaya dalam rangka mencegah stunting dan menurunkan angka stunting. Salah satunya dengan pemberian taburia kepada balita beresiko stunting.

Taburia merupakan bubuk multivitamin dan multimineral yang diberikan kepada balita untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Bubuk taburia dapat diberikan dua hari satu kali kepada balita dengan cara ditaburkan ke dalam makanan balita, bukan untuk diminum atau ditelan langsung. Taburia tidak boleh dicampurkan dengan minuman seperti air, teh, atau susu. Taburia diberikan kepada balita dengan usia 6-24 bulan.

Pemberian taburia kepada balita yang beresiko stunting ini merupakan program pemerintah. Puskesmas Jangkar mendapatkan alokasi taburia dari dinas Kesehatan Situbondo. Kemudian petugas gizi puskesmas melakukan distribusi kepada petugas Kesehatan desa yang kemudian diberikan kepada sasaran balita. Pemberian taburia diberikan pada saat kegiatan posyandu berlangsung maupun saat melakukan kunjungan rumah kepada balita bermasalah gizi.

Pemberian taburia pada kegiatan posyandu di kecamatan Jangkar diawali dengan penimbangan dan pengukuran panjang/tinggi badan anak seperti kegiatan posyandu biasanya. Kemudian dilakukan penentuan status gizi oleh petugas kesehatan desa atau petugas gizi pada anak yang sudah dilakukan penimbangan dan pengukuran. Anak dengan berat badan kurang, berat badan tidak naik, pendek, gizi kurang, dan gizi buruk akan mendapatkan taburia.  Sama halnya dengan pemberian taburia pada saat kunjungan rumah balita.

Dibalik itu, terdapat kendala yang terjadi saat pemberian bubuk taburia kepada balita. Menurut salah seorang ibu dari salah satu balita mengatakan bahwa anaknya tidak terlalu suka kalau makanannya diberikan tambahan taburia. Karena kejadian tersebut, petugas kesehatan desa dan petugas gizi puskesmas memberikan motivasi kepada orang tua balita agar pemberian taburia dapat terlaksana dengan maksimal. Namun, ada juga orang tua balita yang mengatakan berat badan anaknya mulai naik setelah dilakukan pemberian taburia. Hal ini menjadi langkah yang baik dan menjadi bukti bahwa pemberian taburia sebagai upaya penurunan angka stunting di kecamatan Jangkar berhasil. Dengan adanya pemberian taburia diharapkan pemenuhan gizi pada balita yang bermasalah gizi dapat teratasi sehingga dapat mencegah terjadinya stunting dan dapat menurunkan angka stunting di kecamatan Jangkar.